• Mahasiswa Cerdas

Mahasiswa yang Cerdas

posted in: Article | 0

goresan pena ini tidak bermaksud mendikotomi antara mahasiswa cerdas dengan prestasi akademiknya dan mahasiswa progresif dengan prestasi organisasinya. goresan pena ini dimaksudkan buat mengindentifikasi ke 2 karakter tadi dan potensinya untuk berkolaborasi demi kemajuan beserta. dua karakter pada atas, yakni cerdas sekaligus progresif bisa terdapat dalam seseorang mahasiswa. Sosok mirip inilah yang sangat pas menjadi pemimpin, meski akan langka ditemukan. Sosok pertama ini saya sebut sebagai mahasiswa ideal. Karakter yang banyak adalah mahasiswa menggunakan lebih banyak didominasi memiliki satu karakter asal keduanya. terdapat mahasiswa pintar secara akademik tetapi minus pada organisasi, aku menyebut karakter ke 2 ini menjadi mahasiswa cerdas. terdapat juga mahasiswa yang terampil berorganisasi, tetapi pas-pasan dalam hal akademik. Karakter ketiga ini saya sebut dengan mahasiswa progresif. tetapi, ada jua mahasiswa yang tidak lebih banyak didominasi di keduanya—tidak cerdas secara akademik, tidak jua menonjol di bidang organisasi. Karakter keempat mirip ini lebih poly menjadi pengikut (follower). saya menyebutnya menjadi mahasiswa kebanyakan.

Mahasiswa Cerdas

Keempat karakter yg aku definisikan di atas—mahasiswa ideal, mahasiswa cerdas, mahasiswa progresif, dan mahasiswa kebanyakan—tentulah mempunyai potensi dan proyeksinya masing – masing. Mahasiswa ideal layaknya menjadi pemimpin ideal. Mahasiswa cerdas pas menjadi ilmuwan, analis, akademisi, konsultan, profesional serta penemu. Mahasiswa progresif akan berproyeksi menjadi aktivis intelektual, politisi, usahawan, pekerja sosial serta pemimpin sosial serta struktural. mahasiswa kebanyakan potensial menjadi pengikut asal ketiga karakter mahasiswa sebelumnya. Fungsi supporting, akan lebih poly diperankan oleh karakter ini. Potensi serta proyeksi keempat karakter mahasiswa pada atas tentulah bukan hal yg final. Bukankah tidak terdapat yang kekal pada global ini selain perubahan itu sendiri? tapi Jika mencermati syarat kekinian, keempat karakter mahasiswa di atas berikut potensi serta proyeksi ke depannya menunjuk ke hal-hal yang disebutkan pada atas. tetapi, bagaimana Jika sosok mahasiswa ideal dengan kecerdasan dan kejeniusan di atas homogen-rata sekaligus aktif di organisasi semakin langka atau bahkan tak ditemukan sama sekali di rentang ketika eksklusif? Bagaimana jua andai saja, hanya terdapat mahasiswa dengan IPK super tinggi, mahasiswa yang aktif berorganisasi dan berdemonstrasi lalu sisanya mahasiswa ‘kupu-kupu’ (kuliah kembali, kuliah kembali) saja? Skenario kepemimpinan apa serta bagaimana yg sepatutnya bisa diwujudkan?

Mahasiswa Cerdas

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan yg rumit serta kompleks di atas, alangkah baiknya kita sedikit reflektif sejenak. Para ahli pun sesungguhnya masih berdebat soal bagaimana kepemimpinan ideal diciptakan. Para pakar pun terdapat yg berpandangan bahwa pemimpin bisa dibentuk melalui sistem kaderisasi atau dibuat sang lingkungan sekitarnya. Olehnya, semua orang bisa sebagai pemimpin. Pandangan ini dikenal menjadi cara pandang liberal. Adapula sekelompok ahli yang percaya bahwa kepemimpinan bersifat ‘genetik’, diwariskan sesuai garis keturunan menggunakan harapan keunggulan-keunggulannya sebagai pemimpin pun turut diturunkan. Pandangan jenis ini lazim dikenal menjadi pandangan ortodok. kedua cara pandang tadi masih lazim diyakini serta dipraktikkan oleh poly warga . Terakhir, sejarawan fenomenal sekaligus kontroversial Yuval Noah Harari mengatakan dalam Sapiens – nya, bahwa: “baik yg dibilang ortodok, maupun yg dilabeli serta mendaku liberal, sama-sama memuja—apa yang disebutnya menjadi keliru satu yg membentuk spesies Sapiens mampu bertahan hidup dan adidaya dari spesies lain: fiksi dan mitos”.

Baik yang mengusung bahwa semua insan sama/setara dan terdapat insan unggul, istilah Harari, artinya sama-sama mengusung fiksi. sebab secara biologis serta genetis, DNA insan sudah sempurna tidak selaras alias tidak terdapat yang sama sekaligus punya keunggulan masing-masing. namun, luar bisanya, justru sebab kemampuan mengelola ‘yg fiksional serta mitologis’ itulah yang menjadi keliru satu faktor insan (Sapiens) mampu bertahan hayati dan sebagai unggul berasal spesies lainnya. menggunakan begitu, Harari ingin mengatakan bahwa tidak ada kesetaraan apalagi kesamaan secara biologis serta genetis sebagaimana klaim kaum liberal. tidak ada juga keunggulan hierarkis yg bersifat permanen ala kaum konservatif. Pun, jikalau dianggap terdapat, itu hanya diada-adakan buat kepentingan eksklusif melalui strategi penciptaan mitos. Sekali lagi, istilah Harari, itu hanyalah strategi bertahan hayati dan jua taktik buat berkuasa (the strategy to survive and the will to power).

Bahkan, dalam contoh memilih pemimpin sekalipun hingga hari ini tidak sama. Monarki dan demokrasi masih tarik ulur. Bahkan, tidak sedikit yang mencoba berdamai dengan menggabungkan monarki dan demokrasi. Maka lahirlah demokrasi konstitusional. Belum lagi contoh seperti RRC yg menggabungkan sistem politik yang tertutup dan sistem ekonomi yang terbuka. Lebih rumit lagi. intinya tidak terdapat sistem yang standar serta fix dan sebagai role contoh buat semua. Terlebih lagi, makin kesini, kerja sama kreatif baik secara sistem maupun aktor makin menunjukkan taraf keberhasilannya menghadapi tantangan zaman. Mengutip Nassim Nicholas Taleb penulis Black Swan, dunia yg kita hidupi hari ini artinya dunia yg semakin kompleks serta penuh ketidakpastian (the age of complexity and uncertainty). Olehnya, salah satu hal yg perlu disiapkan ialah bagaimana menghadapi kompleksitas dan ketidakpastian itu. Rumit kan? Abad XXI tak jarang dibilang abadnya informasi dan teknologi. Budaya manusia pada-drive sang teknologi. Orang-orang banyak menyebutnya sebagai teknologi digital serta kecerdasan sintesis. Hal ini bisa mengalahkan kecanggihan dan kecerdasan manusia itu sendiri.

menggunakan kompleksitas, ketidakpastian dan hidup serba cepat pada abad isu ini, maka sebagai mahasiswa cerdas atau progresif saja sepertinya tidaklah lagi relevan. sebagai mahasiswa pada abad XXI ini rupanya mesti pula berpengetahuan dan berketerampilan kompleks Jika ingin permanen relevan dan kontekstual menggunakan perkembangan zaman. motilitas zaman tampaknya menuntut hadirnya mahasiswa ideal dengan kecerdasan intelegensia dan kecerdasan emosional yang mumpuni sekaligus. Mahasiswa ‘sepotong-sepotong’ menggunakan mengandalkan kecerdasan dan /atau kemampuan organisasional saja tak relatif. Apalagi mahasiswa yang tidak punya keunggulan asal keduanya alias mahasiswa kebanyakan. sudah dipastikan mahasiswa tipe terakhir akan menjadi follower dan konsumen saja. Ibarat daun kering, di mana angin berhembus di situ juga mereka berterbangan. Bicara soal mahasiswa dan sumber daya manusia (sdm) Indonesia, aku tidak mampu tidak mengingat pesan Professor B.J. Habibie. Ilmuwan sekaligus former presiden Indonesia pemilik IQ di atas ilmuwan sekaliber Einstein dan Newton dan IQ pada atas presiden-presiden global sekelas Abraham Lincoln itu memiliki 2 istilah kunci: pendidikan dan pembudayaan.

Selain itu, dua kata kunci selanjutnya merupakan penguasaan iptek dan imtak (Iman serta takwa) di setiap sendok makan Indonesia. Itulah kapasitas manusia Indonesia yg diimpian-keinginankan ilmuwan jenius sekaligus presiden ber-IQ tertinggi yang pernah dimiliki Indonesia serta global tadi. Darinya, kita belajar bahwa tidak relatif dengan sebagai mahasiswa cerdas saja, tak cukup pula menggunakan sebagai mahasiswa baik-baik saja, termasuk baik dalam hal ber-organisasi. Lantas, bagaimana Bila sosok mahasiswa ideal tersebut sulit terbentuk menggunakan segala faktor, tantangan dan kondisi-syarat spesifik yang merintanginya? pulang ke oleh Bijak yg senantiasa menasehati supaya pada tengah segala kekurangan buat berkolaborasilah. Bergotong royonglah ialah kosa istilah yang lekat pada ingatan bangsa Indonesia. Bahwa mahasiswa cerdas butuh mahasiswa progresif untuk mobilitas-nya. di sisi lain, mahasiswa progresif butuh mahasiswa cerdas buat memantapkan analisanya. ad interim itu, mahasiswa kebanyakan butuh kehadiran kolaboratif keduanya untuk mereka ikuti. serta di akhirnya, mahasiswa ideal kita syukuri Bila terdapat. Pun Bila tidak hadir, biarlah menjadi seperti bintang-bintang di langit yg eksis serta indah hanya di malam hari.